Breaking News

Sleep Paralysis

“Hantu Tidur yang mengganggu, demikian judul sebuah artikel yang saya baca di Harian Suara Merdeka Edisi Minggu tanggal 6 Februari 2011. Artikel ini ditulis oleh Anggraini KD dan Irma Mutiara dalam kolom Sehat halaman 20. Membaca judulnya langsung membawa ingatan saya pada peristiwa yang pernah saya alami beberapa tahun silam.
Saya dan orang Jawa pada umumnya mengenal fenomena ini sebagai “tindihen”. Suatu gangguan tidur yang terjadi ketika berada dalam fase antara sadar dan tidur, di mana saya sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh saya. Mata ini tidak terpejam dan dapat melihat samar keadaan sekitar yang agak meremang. Saya sempat mengalami beberapa kali kejadian, bahkan bisa dibilang sering. Ada beberapa moment tindihen yang tidak bisa saya lupa, di antaranya adalah ketika saya merasa didatangi 3 sosok tinggi besar. Dalam perasaan saya ketika itu, kedua sosok mengikat tubuh saya dari arah samping, sementara seorang lainnya mendatangi dari atas dan mendekatkan wajahnya ke wajah saya. Ketika itu saya seakan merasakan dengan nyata ketika tangan-tangan mereka menyentuh tubuh saya, seakan ada sengatan yang membuat bulu-bulu di tangan saya berdiri.
Pernah juga suatu ketika, saya mendengar banyak derap langkah kaki di luar kamar, dan tiba-tiba satu langkah kaki semakin jelas menuju tempat saya tidur, saya bahkan bisa merasakan sebuah sosok samar mendatangi saya dan menyentuh tangan saya. Saya mendengar suaranya yang mengajak saya untuk mengikutinya. Sama seperti yang terjadi di awal, saya juga merasakan dengan nyata ketika dia memegang tangan saya. Terakhir kali mengalaminya, saya merasakan bukan lagi seseoarang memegang saya, tapi ada yang memukul dan membakar kepala saya. Seolah rasa panas dan nyala api itu pun benar-benar nyata.
Ternyata setelah membaca artikel tersebut, saya baru tahu kalau fenomena tersebut juga dikenal dalam dunia kedokteran dengan sebutan sleep paralysis (SP).
Menurut Neurolog RSUP Karyadi Semarang, tindihan atau sleep paralysis adalah kelumpuhan saat tidur. Hal ini disebabkan aliran darah dalam tubuh tidak lancar. Hal ini juga dapat terjadi karena gangguan bioritmik. Seringnya dikaitkan dengan kemampuan adaptasi seseorang ketika pertama kali tiba di lingkungan yang memiliki perbedaan waktu yang cukup ekstrim dari lingkungan tempat tinggalnya. Selain itu posisi tidur terlentang juga disebut-sebut sebagai penyebab meningkatnya resiko terjadinya SP.
Selain kedua faktor di atas, masih ada beberapa faktor lain yang dianggap sebagai penyebab SP, yaitu kelelahan, stress, mengkonsumsi obat penenang, gangguan tidur, dan faktor genetik. Faktor berikutnya adalah mimpi buruk. Mimpi buruk biasanya muncul karena otak yang terlalu lelah, yang dipicu oleh stress atau depresi. Sindrom Baby Blues pada wanita yang baru melahirkan juga bisa berpengaruh. Secara gender, perempuan lebih beresiko terkena tindihan.
Anggraini KD memberikan beberapa tips relaksasi untuk tidur berkualitas. Yang pertama adalah menata posisi tidur dengan baik. Hindari tidur terlentang. Kedua, beri sugesti positif dengan berdo’a sebelum tidur. Berdoa akan memberikan efek relaksasi sekaligus menanamkan keyakinan bahwa setiap gangguan-gangguan yang terjadi pasti bisa diatasi. Ketiga, membuat jadwal tidur yang teratur. Tidur yang tidak teratur akan menyebabkan gangguan tidur semisal insomnia dan tindihan. Keempat adalah dengan melakukan relaksasi sebelum tidur. Kelima, menjaga pola makan dan menghindari zat kafein. Yang terakhir, apabila sering mengalami gangguan tersebut, maka sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu saya tidak pernah lagi mengalami ”tindihen”. Mungkin karena sekarang pola makan dan tidur saya sudah relatif teratur. Saya juga jarang memikirkan sesuatu yang terlampau berat sehingga dijauhkan dari stress dan depresi. Yang terpenting dari artikel tersebut saya sudah mendapatkan informasi yang benar tentang tindihen (sleep paralysis) dan kiat untuk menghindarinya. Bagaimana dengan Anda?


*Sumber: Kolom Sehat Halaman 20. Harian Suara Merdeka Edisi Minggu, 6 Februari 2010.

Tidak ada komentar